Rekonsiliasi sang hamba

*Rekonsiliasi Sang Hamba*

Akhir-akhir ini istilah rekonsiliasi sering sekali kita dengar, baik melalui orang terdekat, tv nasional maupun media sosial. Apa sih yg ada dibenak kita ketika mendengar istilah rekonsiliasi? Yakni sebagaimana yang termaktub dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) "perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula".

Dari definisi tersebut dapat dimengerti bahwa hubungan yang asalnya baik, tidak pernah ada masalah sebelumnya, kemudian karena beberapa faktor yang membuat rusak hubungan itu sehingga menjadikannya tak seharmonis seperti dulu, maka sang pelaku seyogyanya berusaha mencari cara bagaimana sekiranya hubungan yg telah lalu bisa diperbaiki bahkan lebih mesra lagi, bukan hanya berlaku kepada sang maha pencipta saja, tapi juga berlaku kepada sesama manusia tak perduli apa rasnya, sukunya maupun agamanya.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa manusia itu terlahir dalam keadaan suci, bersih dari dosa, sehingga dekat dengan Alloh, tetapi jika ia dalam keadaan sadar melakukan perbuatan apa yang telah diharamkan, maka sejatinya ia sendirilah yang telah membuat jauh, membuat sekat antara dirinya dan tuhan,dan Alloh pun jauh dengan dirinya.

Memang tak ada manusia yang sempurna, pasti semuanya pernah terjerumus dalam godaan syetan yang mana ia adalah musuh yang haq bagi semua manusia (baca QS. Shad(38):82),dan itu merupakan kecendrungan sifat manusia yakni salah dan lupa.

Tetapi point yang terpenting bukanlah itu, mau atau tidak kita bertaubat kepadanya, apakah perasaan menyesal itu tumbuh ketika kita khilaf, walaupun tidak bisa kita pungkiri bahwa taubat bukanlah suatu hal yang bisa dibuat main-main seenaknya, tetapi sekali lagi kami tegaskan bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa, oleh karenanya jangan pernah ada muncul rasa bosan sedikitpun untuk meminta ampunan kepada dzat maha pengampun, dan ini selaras dengan apa yang pernah nabi sabdakan:
كل ابن أدم خطاء وخير الخطائين التوابون.
"setiap anak Adam pernah berbuat salah, dan sebaik-baiknya yang berbuat salah adalah yang mau bertobat dari kesalahannya (HR. At Tirmidzi no. 2499 hasan) "

Maka disini yang ingin penulis tegaskan adalah tumbuhkanlah sikap untuk tidak pernah bosan meminta ampunan terhadap dzat maha pengampun, jangan ada anggapan dalam diri kita bahwa kita tidak akan mendapat ampunan, walaupun sebanyak apapun dosa kita (kecuali syirik) pasti akan mendapat ampunannya, karena:
مغفرة الله لا بداية ولا نهاية
"ampunan Alloh tak ada habisnya"

Rosululloh pernah menyampaikan dalam Hadist Qudsy dimana Alloh berfirman:
إذا تقرب العبد إلي شبرا تقربت إليه ذراعا، وإذا تقرب إلي ذراعا تقربت منه باعا، وإذا أتاني يمشي أتيته هرولة.
"jikalau seorang hamba mendekatiku sejengkal, aku akan mendekat kepadanya sehasta, dan kalau ia mendekatiku sehasta, aku akan mendekat sedepa, siapa yang datang kepadaku dengan beejalan, aku akan datang kepadanya dengan berlari (HR. Bukhari)"

Melihat dari hadist tersebut kita tahu bahwa sebenarnya pilihan ingin dekat atau tidaknya itu tergantung dari kita, apakah ada upaya dari kita untuk membangun suatu hubungan yang lebih baik atau tidak dengannya. Dan tentunya harus dibarengi dengan rasa penyesalan yang dalam serta ada komitmen yang kuat untuk tidak mengulanginya lagi.
Wallohu a'lamu bi as showab.

M. ANAS MUBAROK

No comments:

Post a Comment

Rekonsiliasi sang hamba

*Rekonsiliasi Sang Hamba* Akhir-akhir ini istilah rekonsiliasi sering sekali kita dengar, baik melalui orang terdekat, tv nasional maup...